Perintah Sujud Kepada Nabi Adam dan Ujian Ketaatan.

Oleh : Ustadz Hakimuddin Salim, Lc.
“Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat, sujudlah kalian kepada Adam! Maka bersujudlah mereka kecuali iblis. Ia enggan dan takabur, dan ia termasuk golongan yang kafir”. (QS. Al Baqarah 34)
Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Qashasul Anbya, nabi Adam a.s. adalah utusan Allah ta’ala yang diberi empat kemuliaan khusus, yaitu diciptakan oleh tangan Allah sendiri, ditiupkan kepadanya ruh ciptaan-Nya, diajarkan kepadanya al asmaa (nama-nama benda), dan diperintahkan kepada para malaikat untuk sujud kepadanya.
Dalam terminologi aqidah, sujud ada dua macam. Yang pertama adalah sajdah ibadah, adalah sujud dalam rangka ibadah, yang hanya boleh dilakukan untuk Allah. Yang kedua adalah sujud tahiyyah, sujud penghormatan, yang merupakan syariat terdahulu dan sudah dihapuskan. Perintah sujud kepada Adam adalah sujud penghormatan.
Ketika itu, malaikat yang diperintahkan sujud kepada Adam a.s. langsung taat dan menunaikannya. Malaikat yang dicipta dari nur (cahaya), sama sekali tidak ragu untuk sujud dan menghormat kepada Adam yang tercipta dari tanah. Makhluk mulia yang tidak pernah membangkang, selalu melaksanakan apa yang diperintahkan itu, mau bersujud kepada manusia yang sering khilaf dan salah.
Ini adalah teladan ketaatan yang luar biasa. Dalam ranah perjuangan dakwah, ketaatan kepada qiyadah adalah rukun utama. Selagi tidak bertentangan dengan hukum Allah. At tho’ah adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Irbadh bin sariyah,

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar juga taat (kepada pemimpin) meskipun ia seorang budak habsyi”. (HR. Imam Ahmad)
Memang selalu terbuka celah untuk bertanya, menyampaikan argumentasi, atau mengajukan persepsi lain kepada pimpinan. Namun kadang, untuk rasionalisasi perintah butuh waktu, teknis yang tidak mudah. Atau alasan itu tidak bisa disampaiakan karena masalah etika dan keamanan. Saat seperti ini ketaatan harus didahulukan. Sambil membangun khusnudzon bahwa ada hikmah dan pertimbangan tertentu di balik semua itu. Seperti yang dicontohkan malaikat.
Bukan seperti iblis yang enggan melaksanakan perintah Allah ta’ala untuk bersujud. Bahkan ia takabbur dan membandingkan dirinya dengan Adam sebagaimana terdapat dalam Al Qur’an Surah Al A’raf 34.
Padahal argumen yang diajukan iblis tidak sepenuhnya benar. Justru tanah lebih bermanfaat. Sebab pada tanah terdapat sifat-sifat keseimbangan, kesantunan, kelembutan dan pertumbuhan. Sedangkan api terkandung padanya sifat-sifat liar, ringan, dan cepat membakar.
Meskipun sebenarnya masalah utama buka siapa lebih baik. Semua bisa saja diperdebatkan dan Allah maha tahu mana yang benar. Tapi problem utamanya adalah pembangkangan terhadap perintah yang diperparah dengan sikap sombong dan merasa lebih dari yang lainnya.
Sebagai hukuman atas kedurhakaannya, iblis diusir dari surga dalam keadaan terlaknat seperti tertulis dalam surat Shaad 77-78.
Tapi sayang, hukuman itu tidak membuatnya sadar dan bertaubat. Kesombongan dan pembangkangannya malah berlanjut pada dendam dan permusuhan. Ia minta diberi tangguh hingga hari kiamat dan selama itu ia bertekad menyesatkan Adam dan keturunannya (QS. Shaad 82).
Inilah lapis-lapis kedurhakaan yang harus dijauhi. Padahal dulunya iblis adalah hamba yang taat dan setia, hingga berhak tinggal di surga. Berawal dari mendebat perintah, lalu merasa lebih dan sombong, kemudian membangkang, yang berlanjut pada penyesatan dan permusuhan abadi. Hingga tidak ada lagi baginya jalan untuk kembali.
Kalu dipikir-pikir, apa susahnya bagi iblis untuk sekedar bersujud? Bukankah itu sangat mudah jika dibandingkan dengan konsekuensi terusir dari surga dan bakal kekal di neraka? Itulah hakikat perintah. Seringkali ia hanya sebuah ujian dan cobaan. Yang bukan hanya menguji ketaatan, namun sebagai tolok ukur seberapa kokoh ketawadhuan, keikhlasan, dan kesejatian dalam pengabdian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s